Mar
24
2016

Jurnal Region Vol.6 No 2, Juli Tahun 2015

TINGKAT KESIAPAN KOTA SURAKARTA

TERHADAP DIMENSI MOBILITAS CERDAS (SMART MOBILITY)

SEBAGAI BAGIAN DARI KONSEP KOTA CERDAS (SMART CITY)

ALFARIANI PRATIWI

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET, SURAKARTA

SOEDWIWAHJONO

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET, SURAKARTA

ANA HARDIANA

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET, SURAKARTA

Abstract. The city has a problem that often arises due to the construction of their own city. To prevent that, city management needs through a sustainable approach to the concept of planning. Now, the concept of smart city is developing, where several major cities in Indonesia have started implementing the concept. Surakarta be a pioneer in the use of technology of transportation commonly called Intelligent Transport Systems(ITS). Surakarta indicated to apply the concept of smart city. Together with Indosat, subsidiary of PT. Starone Partner Telecommunications (SMT) cooperate to apply the concept of smart city in Surakarta for example, e-transportation. E-transportation similar to the principle of smart mobility in the theory of smart city. Howerver not only the application of smart mobility technology, but also need to look at the aspects that provide comfort, security, and sustainability. This study wanted to see the level of readiness of Surakarta to smart mobility dimension as part of the smart city concept. The aspects of this research are local accessibility, international accessibility, multi-modal access, information and communication technology infrastructure supporting urban mobility, sustainable transport and safety. The analytical method used in this research is the analysis technique of scoring which assess the readiness of each aspect and the overall readiness. The results showed that Surakarta belongs to the category ready but conditional on the application of smart mobility. This means Surakarta need to do several requirements either repair or procurement in some aspects. Aspects that have been prepared but has some requirements which need to be done are the aspect of local accessibility, international accessibility, multi-modal access, and information and communication technology infrastructure supporting urban mobility. Sustainable transport and safety aspects belong to the category not ready to support the implementation of smart mobility in Surakarta.

Keywords: smart city, smart mobility, smart transportation

Baca Selanjutnya »

Mar
24
2016

Jurnal Region Vol.6 No.1 Januari 2015

SUPPORTING LOCATION FACTORS TOWARDS SALAK AGROINDUSTRIAL

DEVELOPMENT IN SLEMAN AGROPOLITAN DISTRICT


ABIMANYU PUTRA AZHARI

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA,

JURUSAN ARSITEKTUR, FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET, SURAKARTA

KUSUMASTUTI

PROGRAM STUDIPERENCANAAN WILAYAH DANKOTA,

JURUSANARSITEKTUR, FAKULTASTEKNIK

UNIVERSITASSEBELASMARET, SURAKARTA

ISTI ANDINI

PROGRAM STUDIPERENCANAANWILAYAH DAN KOTA,

JURUSAN ARSITEKTUR, FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITASSEBELASMARET, SURAKARTA

Abstract: Agropolitanconsept is developed as critics of industrial development failure in several Asian development countries which caused by high urbanization, unequal incomeand depletion of resources (Friedmann and Douglass, 1975). This consept also emphasize in agroindustrial development as part of successful agropolitan. Slemanagropolitan district has developed competitive commodites such as salak which can be process to high value products. AfterSlemanAgropolitan District established, the agroindustrial development still has not give the contribution for it. Many industries have limited quantity and there is no connection among other industries, so the industries just walked by itself. Many of them do not observe the important thing on their development, like location. Location has an important role for sustaining agroindustrial development. Based on this issues, the research goal is the achievement value of supporting location factors to salakagroindustrial development in SlemanAgropolitan District. The method is scoring analysis in every location factors variable in agroindustrial development to find the value achivement of supporting location factors. The result of this research, location factors have strongly support for salakagroindustrial development in SlemanAgropolitan District. Raw identified through origin, distance and how to gather the raw has value 96,4% which means strongly support. Labour identified through quantity, origin and distance has value 66,9% which means support. Market identified through origin, distance and how to distribute has value 90,6% which means strongly support. Transportation/accesibility identified through road, transportation cost and time has value 84,2% which means strongly support. Land identified through topography and disasten vulnerability has value 97,5% which means strongly support for agroindustrial development.

Keywords: agropolitan, agroindustrial development, location factor

Baca Selanjutnya »

Apr
9
2015

Jurnal Region Vol.5 No.4 Juli 2014

Partisipasi Petani dalam Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Berbasis Pertanian

Ratri Werdiningtyas

Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota,

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik

Universitas Sebelas Maret,  Surakarta

Abstrak: Banyak kawasan perkotaan yang saat ini bermetamorfose dari daerah pertanian menjadi kawasan perkotaan. Kota Sragen merupakan salah satu kota yang tumbuh di daerah pertanian yang subur. Sejarah menyatakan perkembangan suatu daerah akan berbanding lurus dengan tingkat kesuburannya. Begitu pula cikal bakal dipilihnya lokasi Kota Sragen sebagai pusat pertumbuhan. Kota Sragen berada pada lokasi paling subur di Kabupaten Sragen, yaitu di daerah aliran sungai Bengawan Solo.  Ditetapkannya Kabupaten Sragen sebagai salah satu lumbung padi Jawa Tengah mengharuskan sektor pertanian kabupaten ini harus bisa mempertahankan produksinya. Bertujuan mengenali dampak perubahan iklim pada sektor pertanian Kabupaten Sragen dengan menggunakan metode pendekatan berbasis masyarakat berhasil teridentifikasi bahwa perubahan iklim menyebabkan perubahan kesesuaian lahan yang ada di Kabupaten Sragen termasuk Kota Sragen. Dalam beberapa tahun terakhir infrastruktur pengairan pertanian yang dibangun banyak yang tidak berfungsi sehingga tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan air petani dalam beradaptasi dengan perubahan iklim. Tidak menemukan solusi untuk memenuhi kebutuhan air, pembuatan sumur pantek dan sumur air dalam menjamur di kalangan petani. Hampir semua petani di daerah yang berlokasi jauh dari jaringan irigasi primer harus mengeksploitasi air tanahnya untuk bisa mempertahankan mata pencahariannya. Daerah pertanian dengan hasil pertanian dan masa tanam cukup stabil adalah daerah pertanian sekitar jaringan irigasi utama yang pada kondisi eksiting justru merupakan kawasan pusat pertumbuhan dengan trend alih fungsi lahan pertanian tertinggi. Tanpa adanya upaya perubahan kebijakan pemanfaatan ruang untuk fenomena tersebut bisa dipastikan siklus air tanah akan terganggu dan terancamnya ketahanan pangan Kabupaten Sragen secara keseluruhan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan top down dalam perencanaan tanpa melibatkan partisipasi petani telah menyebabkan pemanfaatan ruang pada kawasan berbasis pertanian menjadi salah arah dan justru menentang asas-asas pembangunan berkelanjutan.

Katakunci : pengendalian pemanfaatan ruang, kesesuaian guna lahan, perubahan iklim


Baca Selanjutnya »

Apr
9
2015

Jurnal Region Vol. 5 No.3 Januari 2014

Kesesuaian Pemanfaatan Jalan Lingkungan Sebagai Ruang Publik Pada Kawasan Kepadatan Penduduk Permukiman Tertinggi di Kota Surakarta

Adri Agung Surya Putra, Ana Hardiana, Isti Andini

Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota,

Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik

Universitas Sebelas Maret,  Surakarta

email: adriagung@gmail.com

Abstract:The highest density populationsettlements in each district Surakarta ,that is Jayengan Village,Setabelan Village, Kepatihan Wetan Village,Kerten Village, and the Pasar Kliwon Village exploit pathway as a public space . More than to the accessibility infrastructure movement of people or goods, pathway also has the function of active open space. Pathway should only facilitate the activities of public, but in reality, it is private activities take place in the pathwaytoo. This leads to the disruption of the function of pathway as aksesbiltas infrastructure and public space utilization because of the private activities.The problem that occurs is the onset of the flow of traffic delays, reduced pathway space as a public space, and increase the density of existing buildings such as the trading business buildings at the pathway , so the purpose of this study is to identify the suitability of used the pathwayas a public space in areas withthe highest level population density settlements in Surakarta by using quantitative research methods .The result is a way to know the suitability of used the pathway as a public spacein areas withthe highest level density of population settlements in Surakarta.

Keywords:.highest level density of population settlements, pathway, public space


Baca Selanjutnya »

Jul
11
2013

SEMINAR “PEMBERDAYAAN MASYARAKAT”

I. Latar Belakang

Indonesia masih menghadapi tantangan dalam dalam mencapai pertumbuhan ekonomi secara inklusif. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah belum sepenuhnya mampu mengatasi permasalahan pembangunan, seperti pengangguran, kemiskinan dan disparitas yang masih tinggi. Kondisi kesejahteraan rakyat di banyak lokasi belum sesuai dengan cita-cita nasional sebagaimana termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945.

Salah satu strategi yang dipandang sesuai untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat adalah pemberdayaan masyarakat. Upaya ini akan mendorong kemandirian, sehingga masyarakat tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, namun juga berkontribusi secara nyata terhadap pembangunan nasional. Namun, pemberdayaan hanya dapat berlangsung dengan optimal melalui partisipasi seluruh elemen bangsa yang mencakup pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan lain sebagainya

II. Tujuan

Seminar ini bertujuan untuk mendiskusikan berbagai hal yang terkait dengan strategi pemberdayaan masyarakat melalui keterlibatan segenap stakeholder pembangunan.

III. Waktu dan Tempat

Seminar dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal              : Sabtu, 15 Juni 2013

Waktu                            : 13.30 WIB – 16.30 WIB

Tempat                         : Ruang Sidang I, Gedung LPPM - Universitas Sebelas Maret (UNS)

Jl. Ir Sutami 36 A Surakarta

IV. Penyelenggara

Seminar diselenggarakan atas kerjasama Pusat Informasi Pembangunan Wilayah (PIPW) LPPM UNS bekerjasama dengan Komunitas Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Ekonomi UPN “Veteran” Yogyakarta.

V. Nara Sumber

Nara sumber seminar terdiri dari akademisi dan praktisi CSR - pimpinan perusahaan swasta: Bapak Toto Mudarwanto (anggota Tim Penilai Akhir (TPA) - Sekretariat Negara RI Jakarta) sebagai Keynote Speaker, Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat (Guru Besar FEB-UGM Yogyakarta), Prof. Dr. Totok Mardikanto (Guru Besar Fak. Pertanian – UNS Surakarta), Bapak Made Dana Tangkas (Direktur Toyota Manufacturing, Jakarta), dan Ir. Winny Astuti, MSc, PhD (PIPW-LPPM UNS).

VI. Peserta

Peserta seminar direncanakan berjumlah 30 orang yang terdiri dari kalangan akademisi, aparat pemerintah daerah, media massa, dan lain-lain.

Jul
10
2013

Laporan Kegiatan Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW)

  1. Pusat studi Pusat Informasi Pembangunan Wilayah (PIPW)LPPM UNS dipercaya pemerintah Kota Magelang sebagai narasumber Forum Konsultasi Publik Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2014 yang diselenggarakan pada tanggal 7 pebruari 2013.  PIPW diwakili oleh Rutiana Dwi Wahyuningsih, yang menyampaikan prinsip-prinsip forum konsultasi publik rancangan awal RKPD sebagai bagian dari sinergitas pendekattan tehnokratis – Top down dengan pendekatan bottom up-partisipatif.  Forum ini dihadiri oleh seluruh jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan unsur organisasi masyarakat sipil, serta Dewan perwakilan Rakyat Daerah.
  2. Musyawarah Pembangunan Kota (Musrenbangkot)  RKPD 2014 . Pada tanggal 22 Maret 2013, PIPW LPPM UNS diminta sebagai narasumber pada Musrenbang kota Magelang untuk Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) 2014.  PIPW diwakili oleh Rutiana Dwi Wahyuningsih, menyampaikan keterkaitan tahapan pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan prioritas dan fokus sasaran pembangunan daerah Kota Magelang tahun 2014.  Acara Musrenbang Kota ini dihadiri oleh seluruh jajaran pemerintah daerah dan DPRD  Kota Magelang, perwakilan delegasi masyarakat serta perwakilan organisasi masyarakat sipil kota Magelang.
Oct
23
2012

MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN SEBAGAI ELEMEN DASAR BAGI COMMUNITY-BASED HOUSING DEVELOPMENT (CBHD)

MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN SEBAGAI ELEMEN DASAR BAGI COMMUNITY-BASED HOUSING DEVELOPMENT (CBHD)

Studi Kasus Kelurahan Tipes Kota Surakarta Indonesia

Winny Astuti
Email: winnyast@yahoo.com
Ana Hardiana

Email: anahardiana@yahoo.co.id

Dyah Widi Astuti
Emai: Dyahwidi@yahoo.com

ABSTRACT

Community-based Housing Development (CBHD) is a one of the housing delivery systems in Indonesia based on strengthening Community institution and organization based through community-empowerment. Slum is a contiguous settlement where the inhabitants are characterized as having inadequate housing and basic services as well as low quality of environment. As an urban phenomenon, slums become determinant of urban poverty. The difficulties of slum’s community in escaping from poverty are mostly caused by limitation of community organization in giving access for community inclusion, security and empowerment. Therefore, the CBHD becomes an instrument for empowering communities to act for themselves, through Community-based Organization. Model of community empowerment for urban slum’s settlement (Model of PMPKB) becomes instrument for escaping slum’s community from poverty by  developing tools to plan and integrate with rolling plan of the city for solving the problems of environment. The aims of the research are firstly to review the implementation of Model PMPKB in Kelurahan Tipes Kota Surakarta; secondly to explore teori and concept of CBHD related to development of community capacity and finally to analyze the results of community need assessment integrated to indicator of poverty alleviation and environmental quality improvement. The research found that Model of PMPKB as a part of CBHD has contributed to alleviation of poverty by firstly, in the short term icreasing participation of slums community in planning of their neighborhood, through understanding of their problems, potencies and opportunities ,while in the  long-term is improving environmental quality of urban slum area.

Kata kunci : pemberdayaan masyarakat, perumahan, kemiskinan, Surakarta

Oct
23
2012

MICROPLANNING IN THE NEIGHBORHOOD UPGRADING PROGRAM as a Creative Connectivity of Community And Their Poor Rural Settlement for Planning Sustainability

[1]

Winny ASTUTI, Ph.D

Center for Information and Regional Development LPPM University of Sebelas Maret

Study Program of Urban and Regional Planning University of Sebelas Maret

Surakarta, Central Java, Indonesia

Email : winnyast@yahoo.com

ABSTRACT

Microplanning is a process which seek to build linkage between local and central need (or between local program and National Policy) and so to reach consencus among participants on priorities. This method are usually used in a small -scale community- based upgrading programmes.   Microplanning has been a tool for including and participating the poor people in the settlements development, where enables programmes for neighborhood upgrading to be prepared locally and collaboratively, since the planning process. Therefore this will be a tool for sustainable rural settlements development, which generates transformation of attitute, encourages self community management and enterpreunership. The research aims to identify the stages of community in conducting microplanning method in PLPBK-Povery Alleviation Program and to analyse the spatial patterns of relation between community and space. This research used the method of Participatory Action research (PAR) where the researcher involved in the process as a Planning Assistant Expert. The Results of  PLPBK-ND document have shown that there are a strong connectivity between community organization involved in the Program as well as connectivity between space and social life and activity of community

Key words : neighborhood upgrading; microplanning; settlements; connectivity; Poverty Alleviation


[1] Paper presented in The International Conference Arte Polis 4, IT , 6-8 Juli 2012

Jul
27
2012

“SISTEM PERINGATAN DINI KETAHANAN PANGAN DAERAH: PENATALAKSANAAN DAN PELIBATAN SELURUH PEMANGKU KEPENTINGAN”

FGD  DALAM RANGKA PENELITIAN UNGGULAN PERGURUAN TINGGI

“SISTEM PERINGATAN DINI KETAHANAN PANGAN DAERAH: PENATALAKSANAAN DAN PELIBATAN SELURUH PEMANGKU KEPENTINGAN”

Lukman Hakim, SE, M.Si, PhD; Mulyanto. Drs, ME; Yosafat Trinugroho, S.Sos, M.Si

Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) LPPM UNS 2012

Dalam rangka penggalian data untuk Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi atas nama Lukman Hakim, SE, M.Si, Ph.D dkk dengan judul “SISTEM PERINGATAN DINI KETAHANAN PANGAN DAERAH: PENATALAKSANAAN DAN PELIBATAN SELURUH PEMANGKU KEPENTINGAN”, maka Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) LPPM UNS mengadakan Focused Group Discussion (FGD) pada:

Hari              :  Selasa, 17 Juli 2012

Waktu          :  08.30 sd 13.00

Tempat       :  Ruang Sidang I Fakultas Ekonomi UNS

Focused Group Discussion (FGD dilatarbelakangi oleh keadaan bahwa pada 2012, Kota Solo mendapatkan penghargaan dari Pemerintah sebagai kota dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terbaik bersama dengan Kota Pematang Siantar, Kota Balikpapan, Propinsi Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Saat ini terdapat 44 pusat TPID yang tersebar di seluruh provinsi, mereka bertanggung jawab untuk mengendalikan kenaikan harga, khususnya harga pangan di daerah-daerah.

Pertanyaannya adalah apakah TPID bisa menjadi salah satu solusi dari model ketahanan pangan yang saat ini tengah digalakkan di daerah pada era reformasi ini. Pertanyaan ini penting mengingat pada era reformasi ini, Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak lagi mempunyai kewenangan luas dalam mengendalikan ketersediaan pangan seperti pada masa Orde Baru lalu. Saat ini Bulog telah berubah menjadi Perusahaan Umum (Perum) dan hanya mendapatkan tugas yang sangat terbatas yakni mengendalikan harga dan ketersediaan beras. Bulog juga tidak bisa melakukan operasi pasar langsung seperti era dulu, melainkan atas permintaan Kepala Daerah setempat.  Praktis pengendalian harga bahan kebutuhan pokok selain beras, saat ini benar-benar dikendalikan oleh pasar. Situasi ini memerlukan sebuah lembaga yang bertugas mengendalikan harga yang melibatkan seluruh stakeholders, inilah menjadi alasan lahirnya TPID. Jika memang TPID punya peluang menjadi salah satu model ketahanan pangan daerah, faktor-faktor apakah yang terpenting dalam mengembangkan TPID ini? Beberapa faktor yang penting untuk diperhatikan adalah penawaran, permintaan dan distribusi pangan, serta yang tidak kalah pentingya adalah masalah manajemen dan tata kelola (governance) ketahanan pangan itu sendiri. Berdasarkan wacana itulah, maka tim peneliti hibah unggulan dari PIPW LPPM UNS akan mengadakan FGD tentang TPID dan Ketahanan Pangan ini.

Focused Group Discussion (FGD) ini bertujuan untuk menggali masukan stakeholder terkait model sistem peringatan dini dari sudut pandangan pemangku kepentingan yang berdasarkan model TPID melalui pemetaan tiap kab/kota. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 25 orang stakeholder ketahanan pangan dari Subosuka Wonosraten diantaranya adalah: Bappeda Kab Boyolali, Bappeda Kab Klaten; Bappeda Kab Sragen; Disperindag Kota Surakarta; Dinas pasar kota Surakarta; Ketua TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) Kota Surakarta; Dinas Perhubungan; BPS; BULOG,  Bank Indonesia dan lain-lain.

Jun
4
2012

Dampak Hotel di Eks Saripetojo

dimuat di Solopos, Rabu, 25/4/2012

oleh: Winny Astuti

Dosen di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret

Peneliti Pusat Informasi dan Pembangunan Wilayah (PIPW) LPPM UNS

Beberapa hari terakhir warga Solo menerima sajian berita rencana pembangunan hotel berbintang empat di area bekas Pabrik Es Saripetojo di kawasan Purwosari, Laweyan, Solo. Kasus Saripetojo mulai bergulir pada Juli 2011 ketika secara tiba-tiba terjadi pembongkaran bangunan bekas pabrik es tersebut dan masyarakat serta budayawan terhenyak ketika menyadari bahwa akan ada bangunan masa lalu yang hilang. Hal ini dilanjutkan dengan perdebatan tentang apakah Saripetojo tersebut bangunan cagar budaya (BCB) atau bukan yang tidak ada ujungnya karena mengacu pada sumber hukum/sumber teori yang berbeda. Warga masyarakat sekitar menginginkan bangunan dengan fungsi yang mempunyai nilai-nilai edukasi ke masyarakat seperti wisata edukasi. Kontroversi berkepanjanganterjadi ketika DPRD Kota Solo dan Komunitas Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) Solo ikut berbicara masalah ini. Setiap aktivitas baru yang muncul di ruang kota selalu berpengaruh terhadap perubahan karakter ruang baik secara fisik/spasial, ekonomi maupun sosial, apalagi untuk fungsi-fungsi yang berskala besar karena mempunyai bangkitan yang besar. Beberapa catatan di bawah ini sekadar memberi wacana terhadap kemungkinan dampak penataan ruang yang akan terjadi dengan dibangunnya hotel di area bekas Pabrik Es Saripetojo.

Pertama, potensi hilangnya nilai-nilai heritage suatu kota. Pabrik Es Saripetojo dibangun pada 1800-an. Nilai heritage suatu kawasan tidak hanya dilihat dari bangunannya saja tetapi seluruh komponen yang ada di suatu kawasan yang kemudian menciptakan citra suatu kawasan. Menurut Linch (1960) dalam The Image of The City bahwa the image is the product both the imediate sensation and of the memory of past experience — memori dari pengalaman masa lalu menjadi kenangan yang sangat berharga yang diekspresikan melalui komponen-koponen pembentuk kawasan heritage baik yang tangible (tersentuh) berupa artefak dan bangunan maupun yang intangible (tidak tersentuh) berupa aktivitas-aktivitas budaya masyarakat, bahasa dan lainnya.

Memori seseorang tentang suatu tempat inilah yang sulit terjaga ketiga suatu kawasan berubah fungsinya secara drastis. Salah satu contoh, Benteng Vredeburg di Jogja sampai saat ini terjaga identitasnya ketika bangunan tersebut berubah fungsi menjadi museum dan community center sehingga memberi ruang kepada masyarakat luas untuk menggunakannya. Hotel yang akan dibangun di bekas Pabrik Es Saripetojo harus mampu menghadirkan kembali memori cagar budaya Saripetojo. Ini merupakan tantangan yang sangat berat bagi desain arsitekturnya yang notabene telah berganti fungsi yang sangat berbeda budayanya untuk tidak sekadar menghadirkan ruang memorabilia yang hanya bersifat eklektisme (peniruan tempelan) semata tetapi kehilangan rohnya.

Kedua, kesenjangan wilayah Solo utara dan selatan makin lebar. Salah satu problem penataan ruang Kota Solo yang tercantum dalam dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Solo 2010-2030 adalah disparitas kawasan Solo utara dan Solo selatan. Wilayah Solo selatan dengan kelengkapan sarana-prasarana dan fasilitas kota menjadi area yang sangat diminati investor, sehingga bermunculan fungsi-fungsi komersial kota seperti mal, hotel, ditambah beberapa fungsi komersial lainnya seperti perkantoran dan jasa. Sementara wilayah utara (sekitar Mojosongo) menjadi wilayah yang semakin tertinggal karena kurang didukung sarana-prasarana kota dan aksesibilitas yang memadai. Beberapa upaya yang sudah dilakukan oleh Walikota Solo Joko Widodo dengan menjadikannya arah lokasi permukiman baru hasil dari relokasi warga penghuni bantaran sungai seakan-akan menjadi upaya yang sangat berat dibandingkan melawan perkembangan Solo bagian Selatan yang sangat progresif dan agresif. Diperlukan upaya dan kehendak politik yang sangat besar dari Pemkot Solo untuk mengurangi disparitas kawasan Solo utara dan Solo selatan.

Ketiga, meningkatnya beban transportasi dan kemacetan lalu lintas di kawasan sekitarnya. Salah satu aspek yang berpengaruh besar dengan dibangunnya hotel di bekas Pabrik Es Saripetojo adalah masalah transportasi. Kawasan di sekitar bangunan bekas Pabrik Es Saripetojo merupakan kawasan yang sangat padat. Pada radius yang sangat dekat terdapat mal dan hotel besar. Lokasinya juga bersebelahan dengan rel kereta api dan Stasiun KA Purwosari yang saat ini sangat macet terutama menjelang dan setelah kereta api lewat.

Keberadaan hotel di bekas Pabrik Es Saripetojo yang direncanakan berbintang empat dengan convention room berkapasitas 3.000 orang serta dilengkapi bioskop dan (kemungkinan) mal akan membangkitkan perjalanan yang sangat besar sehingga sangat berpotensi menambah kemacetan lalu lintas di kawasan tersebut.

Pada saat berakhirnya car free day pada Minggu pukul 09.00 WIB, situasinya diperkirakan akan sangat kacau. Perlu pembatasan volume dan jenis aktivitas yang akan direncanakan pada bangunan di bekas pabrik es tersebut. Di samping itu, pengaturan total sistem transportasi kota perlu dilakukan seperti pembangunan underpass atau fly over di kawasan tersebut.

Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) di kawasan tersebut perlu segera disusun untuk memberi landasan perizinan bagi pembangunan hotel. Perlu pula peraturan tentang keharusan penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL) kawasan dan penyusunan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) sebagai syarat mutlak diterbitkannya perizinan bagi aktivitasaktivitas yang mempunyai dampak besar terhadap lingkungan, yang disusun sesuai kaidah-kaidah akademis dan normatif bebas dari kepentingan serta menjadi acuan dalam implementasinya.

Keempat, terancam hilangnya kegiatan ekonomi rakyat di sekitarnya. Di negara-negara maju seperti Australia diterapkan suatu peraturan kota bahwa zona/kawasan perdagangan tidak bisa dibangun berdekatan dengan zona perdagangan yang lain. Ada batas minimum radius tertentu sehingga diizinkan untuk membangun kawasan perdagangan yang baru.

Jarak dan radius yang terlalu dekat antarpusat perdagangan berpotensi menghilangkan ekonomi ritel di sekitarnya. Di kawasan Purwosari terdapat pasar tradisional Pasar Purwosari, Pasar Karangasem dan perdagangan ritel di sepanjang Jl Slamet Riyadi. Pasar Purwosari dan pertokoan ritel di sekitarnya saat ini terancam keberadaannya dengan hadirnya mal dan hotel di sekitarnya. Pembangunan hotel di bekas Pabrik Es Saripetojo ketika di dalamnya juga berpotensi difasilitasi dengan fasilitas perdagangan akan semakin mengancam keberadaan ekonomi rakyat di sekitarnya seperti Pasar Buah dan Pasar Purwosari.

Visi Kota Solo yang tercantum dalam dokumen RPJMD 2010-2015 adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan kota dilandasi spirit Solo sebagai kota budaya. Tiga fokus arah pengembangan Kota Solo lima tahun mendatang menyatakan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan: sektor riil, UMKM, pasar tradisional dalam rangka peningkatan kapasitas keuangan daerah; pengembangan budi pekerti, tata krama dan tata nilai budaya jawa; dan penataan kota berbasis karakter budaya Jawa. Ini menjadi tantangan seluruh pemangku kepemntingan Kota Solo untuk menjaga dan mewujudkannya.

Kita yakin bahwa seluruh stakeholders Kota Solo berhaap besar terhadap pemanfaatan lahan bekas Pabrik Es Saripetojo sehingga benar-benar bisa menambah vitalitas kota. Kita semua berharap fungsi dan kegiatan baru apa pun yang muncul di kawasan tersebut benar-benar bisa membawa Kota Solo kepada penataan ruang kota yang menjadi cita-cita bersama; mempertimbangkan dampak-dampak penataan ruang yang akan terjadi yang berpengaruh besar terhadap kehidupan dan penghidupan warga kota baik secara fisik/lingkungan; sosial maupun budaya. Ini tantangan kita bersama.